Like A Thunder In The Day

Jumat, 9 Desember 2011

Pertama kali saya konsultasi pada dokter Konsultan Fertilitas yang baru dengan membawa hasil foto laparoskopi bulan April 2011.

Dokter saya langsung tahu, bahwa telah terjadi infeksi pada saluran telur saya dari foto tersebut.

 

Saran dokter: Saya harus melakukan pemeriksaan HSG lagi untuk mengetahui kondisi rahim saya terkini.

Jika kondisi rahim saya sehat dan normal, dengan saluran telur yang patent, sehat dan normal, dokter menyarankan untuk langsung program inseminasi pada siklus haid berikut.

Pertimbangan dokter: usia saya yang sudah kepala 3, dan kondisi suami dengan diagnosa OAT.

 

Selasa, 13 Desember 2011

Saya melakukan pemeriksaan HSG.

Saya bisa melihat hasil diagnosa dokter ahli radiasi yang memeriksa saya. Jelas tertulis di situ: hydrosalphing kiri, kanan masih patent.

Jujur saja, hydrosalphing adalah kata yang benar-benar baru untuk saya.

 

Saya sempat menanyakan hasil diagnosa tersebut pada dokter, dan dijawab bahwa hydrosalping adalah kebuntuan akibat adanya infeksi. Oh God, ternyata tuba kiri saya bermasalah lagi. 😦

 

Jumat, 16 Desember 2011

 

Tanpa didampingi suami yang sedang keluar kota, saya berkonsultasi dengan dokter Konsultan Fertilitas saya dengan membawa hasil pemeriksaan HSG.

Sekali melihat foto rontgen saja, dokter langsung tahu, bahwa hydrosalphing kiri yang saya alami sudah dalam stadium akut.

 

Jalan terbaik adalah dengan operasi laparoskopi dengan tindakan dipotong (clip). Bisa jadi tuba yang kanan pun sebernarnya sudah terinfeksi. Saya masih cukup cool saat mendengarnya.

Dokter mengatakan, bahwa kebuntuan tuba falopi yang saya alami sudah tidak bisa lagi diobati, karena infeksi ini bersifat kambuhan.

 

Tetapi jika saat laparoskopi ternyata ditemukan hydrosalphing bilateral, (kedua tuba terinfeksi) maka, keduanya harus dipotong, dan satu-satunya jalan yang tersisa untuk mempunyai anak adalah dengan program bayi tabung, terutama mengingat kondisi sperma suami yang OAT.

Saya masih tetap biasa saja saat menerima kabar tersebut. Tapi setelah keluar dari ruang periksa, baru saya sadari jantung saya berdebar sangat kencang. Deg-degan tak karuan. Rasanya lemas betul, serasa tulang belulang terlepas dari tempatnya. Rasa tak percaya menyergap saat itu.

What? Bayi tabung? B.A.Y.I.T.A.B.U.N.G!!

Terpikirkan pun tidak!

Bagaimana harus saya sampaikan kabar ini pada suami saya? hiks...

Rasanya benar-benar campur aduk. Mungkin benar kata peribahasa, bagai mendengar gelegar petir di siang bolong…

Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. mba tetap sabar yaa
    saya sangat mengerti apa yang mba Hima rasakan…..saya rasa setiap wanita yang lama menantikan buah hati (perasaannya, sensitifnya, harapannya pasti sama) mereka2 yang gampang hamil tidak akan bisa merasakan betul apa yang kita rasakan.
    Tetap sabar dan semangat…yakinlah semua akan indah pada waktu-Nya

    Salam kenal

    Reply
  2. ihda

     /  January 1, 2015

    Salam kenal. Peluk dr pekalongan. Sy jg sdh HSG mb. Dg diagnosa kedua tuba non patent. Alhamdulillah suami sy normal. Dokter lgs membermemberi saran untuk bayi tabung mengingat keadaan tuba sy. Meskipun blm diketahui non patent nya krn apa. Bgmn kondisi Mb skrg? Saling menguatkan ya Mb. Obrolan lbh lanjut lewat email ya Mb…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: