Ketika Harus Kehilangan…

   

Ok, setelah “tersambar petir” beberapa waktu lalu, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti saran dokter. Langkah pertama saya harus menjalani operasi laparoskopi untuk membereskan infeksi di tuba falopi kiri saya.

 

Sewaktu konsultasi terakhir sebelum operasi, dokter sudah memberikan gambaran, bahwa jika ditemukan infeksi di saluran telur kanan, dengan terpaksa saluran kanan pun akan dipotong juga, tentunya dengan persetujuan suami saya.

 

Jumat tanggal 20 Januari 2011 pk 5.00 WIB saya menjalani operasi laparoskopi di sebuah rumah sakit swasta di Bandung. 

 

Suami saya dipanggil ke ruang operasi tempat saya terkapar. Ya, suami juga harus tahu apa yang terjadi, kondisi apa saja yang saya alami dan tindakan terbaik yang harus diambil dokter. Intinya, suami harus memberikan persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan dokter terhadap saya.

Jadi, dokter tidak mengambil keputusan sendiri.

Dokter menjelaskan kepada suami saya, apa saja yang terjadi di dalam tubuh saya.

 

Sewaktu saya tersadar dari pengaruh bius, saya merasa sangat pusing dan sangat mual.

 

Masih terpengaruh obat bius, saya menyadari suami saya duduk mendampingi saya di ruang perawatan. Saya langsung bertanya, ”Gimana yang kanan?”

Suami saya menggenggam tangan saya dan lirih berujar,” Harus dipotong juga, karena sudah terinfeksi”.

 

Sebelum menandatangai surat pernyataan prosedur operasi, saya sudah menyadari, bahwa ada kemungkinan saluran telur kanan saya pun akan ikut dioperasi. Saya setuju.

Tapi toh saat mendengarnya, saya merasa gamang…

 

OK, ini keputusan kami bersama.. tidak ada gunanya disesali…

Ini adalah jalan terbaik dan kami akan menanggung segala konsekuensi yang ada.

Setelah masa pemulihan nanti, kami bisa langsung mengikuti bayi tabung.

 

Yang tidak saya duga adalah, ternyata rasa kehilangan itu muncul beberapa hari setelah operasi. Ya Tuhan, rasanya sedih sekali. Seumur hidup saya memilikinya. Sadar atau tidak sadar, kedua saluran telur saya ada di dalam tubuh saya, bahkan telah dirancang Tuhan demikian indahnya sejak saya masih berujud setitik kecil embrio.

 

Sewaktu saya remaja dan mulai menyadari bahwa saya memiliki kedua tuba dengan fungsinya, saya berusaha menjaganya dengan baik. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya menyayangi kedua tuba saya, karena ia tertanam di dalam tubuh saya dan saya tak bisa melihatnya.

Tapi, justru ketika saya harus kehilangan (fungsi) kedua tuba saya, jujur, rasa kehilangan itu amat berat…  hiks…

 

Satu hal yang tidak diceritakan suami saya sampai di hari ketika saya tersedu-sedu karena kehilangan kedua tuba falopi saya.

 

Sewaktu saya tidak sadar dalam pengaruh bius saat operasi, suami saya meneteskan air mata saat dokter ”meminta izin” untuk memotong kedua tuba saya yang terinfeksi.

 

”Mau bayi tabung kan?”

”Iya, Dok…”.

 

”Potong ya?”

”….”

 …hening…


”Potong ya, Pak?”.

Suami saya hanya bisa mengangguk.

 Dokter sampai harus menanyakan hingga dua kali…

 

Sewaktu suami saya berusaha menghibur di saat saya sedih itu, barulah suami berterus terang apa yang dialaminya di ruang operasi.

”Apalah saya ini, hingga berani memutuskan untuk memotong kedua tubamu…”.

 

Jauh hari sebelum saya menjalani operasi ini, saya dan suami pernah berdiskusi. Jika salah satu dari kami dalam kondisi kritis/tidak sadar/tidak mampu untuk bisa memutuskan tindakan medis terbaik yang harus diambil, maka yang lainnya harus mengambil keputusan untuk mengikuti saran dari dokter.

Bagaimanapun, dokter pastilah lebih punya pengalaman dan pertimbangan profesional untuk menentukan  penanganan yang akan diambil.

 

Yah, saya toh harus bisa berdamai dengan keadaan saya sekarang.

 

Hima.  

Leave a comment

7 Comments

  1. Salam kenal mbak,
    Saya nemu blog mbak hima ini gak sengaja waktu nyari2 info ttg laparoskopi. Dulu banget sebenarnya udah pernah, tp baru2 ini dokter sarankan utk mengulang lagi.
    Akhirnya saya baca kisah mbak, dari awal smpai akhir, sya tersentuh dan ‘mbrebes mili’ kurang lebih persis yg sy alami, mulai sindiran kpn punya anak, mereka yg bahagia dan lupa, hidrosalping, sampai kehilangan tuba. Saya jg udah pernah ivf, namun janin gagal menempel. Saya jg rasanya udah lelah, fisik,mental & finansial.
    Tp setelah kenal mbak, sy jd merasa tidak sendirian menghadapi semua ini.
    Nice to know you… dan semoga kita bisa saling menguatkan ya mbak…

    Reply
    • Salam kenal juga Mbak Wienda…
      Terima kasih sudah membaca dan ninggalin komen yaaa…. senangnya punya kawan baru meskipun baru di dunia maya…

      Turut bersimpati juga ya Mbak untuk semua yang Mbak Wienda alami… saya tahu beratnya, saya mengerti perasaan lelah itu… saya memahami pedih perihnya semua perjuangan itu..
      Saling mendoakan dan menguatkan ya Mbak Wienda…
      tetep semangat yaa…

      hima

      Reply
  2. salam mbak… saya selalu mengikuti tulisan dalam blog mbak.. saya ingin bertanya banyak pada mbak.. bolehkah saya minta alamat email mbak alvie?

    Reply
  3. Salam kenal Hima…
    Aq menangis membaca blogmu, tak terasa air mataku jatuh. Aku tau betul arti perjuangan yang kita lalui. Terasa berat dan hanya satu kata yang mampu kita dan mereka katakan “sabar”. Seperti kata muzijat, tapi tak merubah galaunya hati kita. Setiap apa yang kmu lalui kita seperti senasib dan batin kita sama…Semoga kita dimampukan melalui masa2 ini

    big hug

    anggrek

    Reply
    • Dear Mbak Anggrek..
      terima kasih sudah membaca blog saya ya…
      juga terima kasih atas simpati yang mendalam…. “Sabar” adalah kuncinya, begitu kata orang… tetapi bagi kita yang berada dalam kondisi berjuang keras untuk memperoleh momongan, kadang-kadang justru satu kata itu jadi tidak mengenakkan…

      Saya mengamini Anda, Mbak… semoga kita dan para perempuan yang senasib dengan kita selalu dikuatkan dan dimampukan melalui masa-masa berat dan penuh ujian ini… Tuhan berkati…

      salam hangat,
      hima agnezita alvian

      Reply
  4. tetap semangatt mba….kita sama-sama berjuang, kalau memang Tuhan berkehendak tidak ada yang mustahil. Walaupun di dalam perjalanan kita untuk mendapatkan momongan banyak hal yang kita harus alami & lewati (sindiran org, pertanyaan org yg trkadang seperti menyudutkan kita, org2 yang tidak mengerti perasaan kita dan banyak lagi) biarlah semua itu membuat kita semakin kuat. Saya punya teman (anaknya sudah 2) tiap bertemu yang selalu di lontarkan nya “kamu koq belum hamil2, anak saya sudah 2 loh” saya hanya bisa mengelus dada…saya maklumi karena dia tidak pernah merasakan diposisi kita (dia termasuk orang yang gampang sekali hamilnya).
    semoga kita selalu diberikan kesabaran ya mba… AMINNN

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: