Iya, saya sensitif..

Saya sedang malas berhubungan di media sosial yang bawel berkicau itu. Juga di buku wajah itu.

Apa pasal? Setiap kali saya on line, teman-teman yang lama tak terhubung kerap menanyakan keadaan saya. Termasuk masalah anak. Ya, itu dan itu lagi…

 

Saya jadi berpikir, apakah saya yang terlalu sensitif?

Dalam sebuah chatting dengan teman dekat saya, dia curhat, betapa dia merasa sensitif dengan keadaannya yang  separuh Cina (ayah) dan separuh Jawa (ibu).

Teman yang lain berkisah, dia merasa terganggu dengan pertanyaan: ayoo kapan kamu nikah? Mau nunggu apa lagi? Umur jalan terus lho…

 

Sahabat saya yang lain juga akhirnya mengeluh. Dia lelah dengan olok-olok tentang tubuhnya yang gemuk.

 

Saya merenung, bisa jadi, setiap orang punya hal sensitif yang bisa menyinggung dan mengusik perasaan mereka. Mulai dari level yang ringan sampai berat.

 

Saya menulis ini bukan karena meratapi nasib saya, tidak juga untuk minta dikasihani. TIDAK.

 

Bagi saya dan Mas Alvi suami saya, keadaan kami memang tidak ringan. Perjuangan kami selama hampir 7 tahun untuk memperoleh anak belum berhasil.  

Banyak hal kami lewati, termasuk keguguran, HSG, operasi laparoskopi, kehilangan kedua tuba, sperma suami dinyatakan too extreme for normal fertilization, dan yang terakhir kegagalan bayi tabung.

 

Oh ya, tentu ada banyak kesedihan, kecemasan, kekecewaan dan keputusasaan dalam semua proses itu. Banyak pengorbanan yang seakan sia-sia: dana, waktu, tenaga dan airmata.

Bahkan juga sempat ada kemarahan pada Tuhan yang telah menciptakan keadaan ini. Mengapa kami?

 

Saya dan suami mencoba untuk berpikir positif, melihat sisi terang dari semua yang kami alami. Mencoba untuk tetap optimis dan semangat lebih serius lagi berjuang dan berserah pada kehendak Tuhan.

 

Tapi yah, saya manusia normal.

Ada saat ketika saya benar-benar rapuh dan sensitif, dan justru di saat seperti ini, celakanya, kok ya kebetulan ada aja orang lain yang menanyakan hal tentang anak ini.

 

”Nunggu apa lagi, sih?”

**ya nggak ada yang ditunggu… maunya juga langsung punya anak, tawwuu…. 😀 ***

 

”Kamunya nggak ada masalah kan?”

**Masalah? Banyaaakk! Tapi gue males cerita sama elu… **

 

”Udah ke dokter kandungan?”

**jangankan dokter, profesor gue datengin.. cuman gue nggak mesti laporan kan?**

 

Gimana, nih, udah isi belum?”

**oh, iya, gue diisi tiap malem…  ** puas?😀  

Ya kalau mood lagi nggak bagus, suasana hati lagi nggak enak, tiba-tiba disentil dengan pertanyaan sensitif begini dengan cara yang kurang empatik ya jelas bikin saya sedih dong..

Enggak sih kalau sakit hati, tapi sedih…😦

Bahkan jadi sebel kalau si temen masih aja nyinyir nanya-nanya melulu, nggak sadar saya memberikan sinyal tidak berkenan membahas hal ini.

 

catatan: ilustrasi saya pinjam dari link ini.

Jadi? Saya sensitif? Iyaaa!

Tapi si penanya juga nggak sensible, nggak peka!  Secara emosi ”nggak cerdas membaca situasi”…

 

Put your foot on others’ shoes…

 

 

Saya jadi berpikir.

Sensitif dan tidak sensitif ini bisa terjadi pada siapa saja, nggak pandang bulu.

Satu hal yang sangat sensitif buat saya, bukan berarti itu juga sensitif untuk orang lain.

 

Sebaliknya, suatu hal yang biasa saja untuk saya, bisa jadi hal tersebut terlalu sensitif yang mengganggu bagi orang lain, bahkan jadi masalah serius bagi yang lainnya lagi.

 

Saya berpikir lebih dalam.

Haduhh, jangan-jangan selama ini dengan-saya-sadari- atau-tidak.. juga pernah menyinggung orang lain dengan hal yang sensitif bagi mereka?

Kalau begitu, saya menyesal. Betapa tidak enaknya berada dalam posisi itu.

 

Sepertinya saya harus menjadi orang yang lebih peka terhadap orang lain. Tidak asal bicara, tidak asal basa-basi, tidak asal bercanda dengan hal yang kira-kira sensitif pada lawan bicara saya.

 

Nah, saya juga sepertinya  harus introspeksi diri. Supaya tidak mudah sedih atau sebel ketika disinggung dengan hal yang membuat saya ”terganggu”, ya saya harus berusaha mengurangi  ”kadar sensitif” saya sendiri. Tidak setiap orang tahu masalah yang kami hadapi.

Agak sulit memang kalau menjelang my period…

 

Kami berusaha menjalani semua proses kami dengan gembira, dengan ikhlas, dan selalu berpikir positif..

Yah, tidak selalu mudah memang, mengingat adaa aja temen yang ”ramah” dan ada juga yang usil nanyain hal ini.

 

Apapun, tetep semangat!

hima

Next Post
Leave a comment

4 Comments

  1. betul. tetap semangat, mbak. karena semangat adalah modal awal kita untuk berikhtiar selanjutnya. semakin dekat dengan Tuhan, semakin bahagia. with or without baby… cheer’s!

    Reply
    • Terima kasih supportnya, Mbak Nurul…
      smoga saya masih terus bisa mengampuni mereka yang terlalu usil pada saya…😀

      Salam…

      Reply
  2. nurmeiny

     /  February 17, 2013

    salam kenal mbak
    apa yg mbak rasakn sm seperti yg saya rasakan jika sensitif itu air mata langsung mengalir…apalagi yg bikin sensi…teman curhat mengeluh pingin anak kedua blm berhasil..sebel banget. saking kesal ny sma dn telponny tdk saya angkat…sampai akhirny dia minta maaf dn saya katakn saya lagi tdk berminat membicarakan ttg anak. moga curhatan ini membuat beban rasa berkurang. thanks mbak atas blogny

    Reply
    • Halo Mbak Nurmeiny…
      iya saya ngerti banget apa yang Mbak rasakan… ngeselin, tapi kita mau bales jawab kasar juga nggak bisa..
      Senang bisa berbagi, Mbak…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: