Segitu doang? Lah… gue??

Kesedihan kami memang terasa berat untuk kami hadapi. Kami belum berhasil juga mendapatkan calon momongan yang kami idamkan seperti saya tulis di sini.

Beberapa hari bersedih dan menangis, seperti belum cukup.

Dan suatu hari saya meledak dalam kemarahan.

Seperti hidup ini tak adil.

Seperti perjuangan kami selama ini tak didengar Gusti.

Ya, akhirnya saya marah. Bukan kemarahan histeris tak terkendali, bukan..

Saya menangis dalam amarah saya.

Sebabnya mungkin sepele bagi orang lain. Tapi bagi saya, 3 hal yang terjadi beberapa hari lalu benar-benar menjadi hal yang sangat sensitif dan menyedihkan.

 

Pertama, saya mendapat SMS dari sesama pasien IVF. Dia menanyakan hasil IVF saya, bagaimana hasilnya.

Sepele kan?

Dia ingin tahu perkembangan saya.

Itulah masalahnya. Saya sedang tak ingin diganggu. Mana dia tahu apa yang saya rasakan? Kalau saya jawab apa adanya, dia akan semakin jauh bertanya kenapa?…kenapa?…kenapa..?

Singkat perkenalan kami, tapi saya sudah merasa kurang nyaman dengan pertanyaan-pertanyaannya yang cenderung ”usil” ingin tahu perkembangan program bayi tabung _saya.

 

 

 

Kedua, dalam grup BBM dengan teman-teman SMP…

Salah seorang teman saya yang masih pengantin baru, baru 3,5 bulan menikah, sudah mengeluh dengan dramatisnya tentang kekecewaannya karena ternyata tidak jadi hamil setelah terlambat 2 minggu. Bahkan di FB pun dia memasang status tak kalah melow-nya.

Jujur nih, reaksi pertama saya (dalam hati sih) adalah: ”Segitu doang udah ribut? Lahh…gue?? udah 7 tahun gue berjuang! Berapa puluh kali gue ngerasain kekecewaan kayak lu? Kekecewaan gue malah lebih berat berlipat-lipat! Tapi gue nggak harus lebay kayak gitu… !”.

 

 

Ketiga, juga dalam BBM grup, kali ini dengan  teman-teman kampus.

Seorang teman saya, bulan depan akan melahirkan. Dia hamil secara normal, dan ingin melahirkan secara normal. Nah, dia ribuuutt banget masalah dana yang harus dia keluarkan untuk melahirkan nanti.

Intinya dia keberatan mengeluarkan dana 8,9 juta rupiah saja untuk proses melahirkan normal. Please deh,  padahal dia kerja, bisa aja kan diganti kantornya? Meski mungkin nggak 100%, pasti dong kantor memberi kompensasi tunjangan melahirkan, dong?

 

And you know what? Suaminya kerja di perusahaan minyak bergaji dollar! Uang segitu mah kecil buat suaminya.

Lahh…gue?? gue dan suami udah abis lebih dari 300an juta untuk usaha punya anak, dia yang tinggal brojol masih aja ribut duit segitu? Kenapa tidak belajar bersyukur? Dia jauh lebih beruntung lho…. banyak pasangan di luar sana yang berjuang setengah mati untuk mendapatkan anak… menghabiskan sekian puluh atau ratus juta untuk mendapatkan anugrah itu..

Salah satu teman saya dengan gemas bilang begini: yah, kalau mau gratis, ngelahirin aja di hutan!

Teman lain juga nimpalin: ada, lairan cuma bayar 500 ribu, tapi lu ngelahirin di bangku kayu!

 

Teman-teman saya lebih kejam responnya. Saya hanya membatin. Nggak sanggup nimpalin.

I was too upset…

 

=====

 

Dan ini rasionalisasi saya setelah kegusaran saya mereda. (pertama)

OK, teman saya ini (sesama pasien IVF)  sama gelisah, resah, gamang dan cemasnya dengan saya menghadapi program bayi tabung, jadi dia bertanya-tanya kondisi saya, untuk pengetahuannya apa yang akan terjadi pada tubuhnya sendiri, karena saya punya pengalaman program IVF sebelumnya meskipun gagal.

Salah saya sendiri, begitu gampang memberikan nomor saya pada orang yang baru saya kenal.

 

 

 

Pikiran waras muncul setelah kesebalan saya menguap. (kedua)

Bisa dimengerti teman saya sudah begitu ingin hamil, mengingat dia kan seusia saya, dan termasuk agak terlambat menikah di usia 35 tahun..

Dan mustahil dia tahu kisah perjuangan saya dan suami selama ini, karena saya tidak pernah bercerita kepadanya. Ketemu lagi pun baru beberapa bulan lalu gara-gara FB..

 

 

Kegeraman saya hilang, dan inilah yang terpikirkan. (ketiga)

Suami teman saya ini seorang duda cerai dengan menanggung tunjangan 3 anak (dan mungkin juga mantan istri).

Siapa tau, perusahaan tempat suaminya bekerja membatasi tanggungan hingga anak ke 3? Atau teman saya sebagai istri kedua, dianggap bukan bagian dari kewajiban kantor suaminya untuk menanggungnya?

Entahlah.

 

 

Ketiga trigger itu yang membuat saya marah-entah-pada-siapa  dan akhirnya saya hanya bisa berurai air mata.

Tapi, setelah hati saya adem, saya bisa berpikir lebih jernih. Setiap orang pasti pernah sekali waktu menganggap kisahnya lebih heroik, lebih dramatis, lebih mengharu-biru, lebih hebat daripada kisah orang lain. wang sinawang kata orang Jawa…

Ada orang yang mungkin menganggap masalah orang lain tak sepelik masalah yang dihadapinya.

 

Pada akhirnya saya tercenung. Untung saya tidak lantas responsif pada teman SMP dan  teman kampus saya di atas. Mungkin saja, mereka menyimpan alasan dan permasalahan lain yang lebih berat yang tidak mereka ceritakan pada saya?

 

Dan bagaimanapun juga, pembelaan diri atau menukas dengan ungkapan “lahh…gue??…” terdengar sangat tidak bijaksana dan kekanakan. Juga kurang nyaman di telinga pendengar karena seolah  ”mengecilkan” kisah mereka, senada dengan mengatakan: “ah, masalah lu belum seberapa dibanding gue nih… “

 

Yah, setiap orang mempunyai beban… baik yang dibaginya maupun yang ingin disimpannya sendiri.

Setiap pribadi hanya ingin dimengerti. That’s it..

hima

 

Leave a comment

12 Comments

  1. susan

     /  November 5, 2012

    Dear Mba Hima…
    saya bertanya2 apakah ini Mba yg ikut bayi tabung di bandung, et tanggal 28 september kemarin? Kalau iya, masih ingat saya? Saya sekamar dengan Mba setelah selesai et. Saya coba cari2 blog Mba, karena waktu itu pekerjaan Mba bilang menulis blog.
    Maaf kalau saya mengganggu, dan mungkin saya juga ga bisa berkata apa2 untuk menghibur Mba. Tapi tetap semangat ya… saya yakin Tuhan juga akan menjawab pada waktu yang tepat.
    Gbu.

    Salam,
    Susan

    Reply
  2. Ani

     /  January 18, 2013

    Mbak, tetep sabar ya…saya sudah 14 tahun, dan seringkali merasakan kegemesan melihat “penderitaan” org lain yg saya rasa ga sebanding dgn saya….Allah tau yg terbaik, dan yg penting keep the faith…….

    Reply
    • Dear Mbak Ani… terima kasih sudah membaca blog saya ya… namanya manusia normal ya Mbak, kita mengalami kegemesen dan gregetan melihat orang lain mengeluhkan “penderitaan” yang “belum ada apa-apanya” dibandingkan dengan apa yang kita alami..
      Terima kasih sudah berbagi, Mbak Ani… semoga kita tetep sabar dan pada waktunya kita bisa menikmati rasanya menjadi ibu…

      salam,
      hima

      Reply
  3. salam kenal mba…..
    membaca tulisan/blog mba ini rasanya seperti mewakili perasaan saya (kami juga sudah menikah selama 5 tahun) dan sampai sekarang belum diberi momongan, semoga kita tetap kuat dan semangattt utk terus berusaha mendapatkan momongan (selebihnya adalah kehendak Tuhan yang mahakuasa) mba bisa minta alamat YM nya, biar enak ngobrol/curhat nya🙂

    Reply
    • Salam kenal juga ya Mbak Miyako….
      saling mendoakan ya, semoga kita diberi kemudahan dalam upaya da usaha mendapatkan anak…
      salam..
      hima agnezita

      Reply
  4. ai

     /  March 20, 2013

    salam kenal mbak…
    pengalaman kita hampir sama mbak saya pun udah 7 tahun menikah dan belum .dipercayakan Tuhan momongan, mungkin kita bisa sharring lewat Ym / bbm ,Terima kasih

    Reply
    • Salam kenal juga Mbak Ai…
      semoga kita tetep sabar dalam menunggu dan berusaha ya Mbak..
      utk YM harus pakai alamat yahoo ya? saya harus bikin akun yahoo dulu dong?🙂

      salam,
      hima

      Reply
  5. ai

     /  March 21, 2013

    Amin Mbak iya pin saya 27FEF173 ,, tlg diadd mbak , Terima kasih

    Reply
    • wahh…Mbak Ai… saya sudah tidak pakai BB lagi.. nunggu jatah BB lungsuran suami dulu nih kayaknya.. 😀

      Reply
  6. ellen

     /  March 27, 2013

    semangat mba hima dan calon2 ibu yang lainnya, berjuang terusssssss selama kita masih hidup seeemangggaaaaaatt

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: